Benarkah Risiko Kecelakaan Penerbangan Murah Lebih Besar?

Hotline

Layanan penerbangan berbiaya murah atau (low cost carrier/LCC) punya stereotip miring bagi sebagian orang. Persoalan keterlambatan hingga risiko keselamatan terbang jadi momok. Benarkah penerbangan murah punya korelasi dengan mutu keselamatan penerbangan?

Mari kita mulai dari fakta kasus pesawat jatuh beberapa tahun terakhir di Indonesia yang melibatkan maskapai penerbangan LCC, seperti Adam Air pada 2007, AirAsia pada akhir 2014, hingga kasus terbaru yakni jatuhnya Lion Air JT610. 
Ditjen Perhubungan Udara menyebutkan, pesawat dengan nomor registrasi PK-LQP dilaporkan terakhir tertangkap radar pada koordinat 05 46.15 S – 107 07.16 E. Pesawat ini berangkat pada pukul 06.10 WIB dan dijadwalkan tiba di Pangkalpinang pada pukul 07.10 WIB. Pesawat sempat meminta return to base (“kembali ke pangkalan udara”) sebelum akhirnya hilang dari radar.

Dari siaran pers yang diterbitkan oleh Bagian Kerja Sama dan Humas Direktorat Jendral Perhubungan Udara, diketahui pesawat Lion Air membawa 181 penumpang (179 dewasa, 1 anak-anak, dan 2 bayi) dan 7 awak pesawat (2 pilot dan 5 FA).

Murah Meriah

Isu keselamatan penumpang kerap dibicarakan terkait kemunculan penerbangan murah LCC. Lion Air selama ini dikenal sebagai maskapai yang getol menjual tiket murah. 

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) menyebutkan, keberadaan maskapai-maskapai yang menyediakan jasa penerbangan murah telah berperan penting mendongkrak pertumbuhan penumpang yang luar biasa pesat.

Pada 2015, jaringan penerbangan murah mengangkut 984 juta penumpang—setara dengan 28 persen—dari jumlah total penumpang yang diangkut waktu itu sebanyak 3,5 miliar. Jumlah ini meningkat 10 persen dibanding tahun sebelumnya. Salah satu maskapai melejit lewat LCC ialah Southwest Airlines Co. yang berpusat di Dallas, Texas. 

Masih menurut ICAO, ada tiga resep yang membikin LCC populer. Pertama, pertumbuhan LCC sejalan dengan liberalisasi pasar. Kedua, LCC mampu menangkap kebutuhan penumpang dan menawarkan produk yang sesuai (harga murah, layanan prima). Ketiga, saat industri kedirgantaraan diributkan dengan lonjakan avtur hingga serangan teroris, LCC tetap memegang teguh prinsip kerjanya: memotong biaya bagi konsumen dan memaksimalkan efisiensi penerbangan.

Dilansir dari artikel Deutsche Welle berjudul “Penerbangan Murah di Indonesia”(2007), maraknya penerbangan bertarif murah di Indonesia dimulai sejak dibukanya deregulasi penerbangan niaga oleh pemerintah pada 2001. Kebijakan tersebut memungkinkan maskapai-maskapai untuk menjalankan bisnis penerbangan kendati hanya punya satu pesawat dan modalnya pas-pasan. Situasi ini makin menguntungkan maskapai tatkala aturan mengenai batas tarif bawah dinihilkan.

Walhasil, harga tiket semakin murah dan nama-nama baru di jagat industri penerbangan pun muncul, misalnya Lion Air, Adam Air, AirAsia, Citilink, Jatayu, Kartika Airlines, Sriwijaya, Indonesia Airlines, Star Air, dan Batavia Air. 

Berbagai strategi ditempuh untuk memenuhi target. Masih mengutip laporan Deutsche Welle, Adam Air, misalnya, mematok harga rendah untuk trayek penerbangan yang kurang diminati penumpang dan menjual tiket lebih mahal untuk rute yang ramai. Kebijakan ini dilakukan dalam rangka subsidi silang agar harga tiket bisa ditekan. Selain itu, Adam Air juga mengoperasikan pesawat keluaran baru untuk menghemat bahan bakar.

Hal yang sama dilakukan oleh Lion Air. Demi menggaet banyak penumpang, Lion Air menggunting biaya operasional pegawai serta layanan jasa penumpang dan menerapkan sistem penjualan tiket secara daring. 

Hasilnya, penerbangan murah mulai diminati banyak orang. Data menunjukkan terdapat lonjakan jumlah penumpang yang cukup drastis dalam lima tahun sejak deregulasi berlaku. Pada 2002, pertumbuhan penumpang berada di kisaran angka 12,3 juta. Dua tahun berikutnya, jumlah penumpang meningkat dua kali lipat hingga 24 juta. Tren itu, terang Deutsche Welle, “terus bertambah di tahun-tahun terakhir.”

Faktor Manusia?

Namun, lonjakan penumpang penerbangan murah dibarengi dengan anggapan bahwa tingkat keamanan penerbangan murah sangat rendah dan kerap mengalami kecelakaan.

Pada 2007, pesawat Adam Air jurusan Jakarta-Surabaya-Manado jatuh di perairan Majene, Sulawesi Barat. Sebagaimana diwartakan Kompas (25/03/2018), Adam Air diduga jatuh karena rusaknya alat navigasi pesawat (Internal Reference System/IRS).

Kerusakan IRS membuat fokus pilot terpecah dan luput memperhatikan instrumen yang lain sehingga membikin posisi pesawat miring sebelum akhirnya menabrak laut. Seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 102 orang hilang.

Pada 2014, publik Indonesia kembali digegerkan oleh kabar kecelakaan pesawat. Kali ini, yang jatuh adalah pesawat AirAsia dengan rute Surabaya-Singapura. Setelah kehilangan kontak sekitar 40 menit usai lepas landas, Pesawat Airbus A320-200 yang membawa 162 penumpang ini dinyatakan hilang dan jatuh di Laut Jawa.

Rentetan kecelakaan yang melibatkan pesawat LCC membuat Menteri Perhubungan Ignasius Jonan kala itu mengeluarkan kebijakan sarat kontroversi: tidak akan ada lagi tiket pesawat berharga miring. Jonan menyatakan, per Desember 2014, tiket pesawat dengan tarif di bawah Rp500 ribu ditiadakan. Atau dengan kata lain, batas bawah harga tiket pesawat kelas ekonomi naik menjadi minimal 40 persen dari yang sebelumnya 30 persen.

Source : https://tirto.id/benarkah-risiko-kecelakaan-penerbangan-murah-lebih-besar-c8Nv